Selasa, 14 Februari 2012

Terus Bersama-Sama.


“Rei?! Kabur dari rumah lagi?!!” tanya Shin, ketika dirinya melihat Rei tengah meringkuk di depan pintu kostannya sambil memeluk gitar kesayangan Rei.

Rei hanya mengangguk lemah, tak berkata apa-apa. Matanya terlihat sembab. Shin sudah dapat menduganya, Rei pasti habis bertengkar lagi dengan ibunya. Dengan penuh kelembutan Shin mengajak Rei masuk ke dalam kostan, lalu menyuguhkannya segelas teh hangat.

“Dah berapa lama lo di situ?! Udah makan, belom?” Shin bertanya kaku, entah kenapa ia selalu gugup saat melihat sahabatnya itu menangis.

Rei terdiam sesaat, lalu menyesap teh di hadapannya beberapa teguk. Ia nampak sudah baikan sekarang. “Sori, ya.. Lagi-lagi, gue ngerepotin elo.”

Shin menghela napas panjang kemudian menatap Rei serius. “Iya, lo udah ngerepotin gue!!! Sekarang, lo beliin gue bakso yang di depan gang!! Cepet!!”

Rei tertawa, ia tau Shin hanya menggodanya. Lalu di sela tawanya ia tersenyum getir. “Padahal, elo baik banget sama gue.. Tapi, kenapa nyokap gue ngelarang gue berteman sama lo, hanya karena penampilan lo?!”

Shin hanya cengengesan sambil menyingkap bajunya, lalu memandangi dirinya di cermin. “Maksud lo, tattoo-tattoo ini?? Ini warisan dari bokap gue, tau.. Hahahaha."

Rei menatap Shin bingung. “Warisan?? Maksudnya??”

“Dulu bokap gue kepengen jadi musisi, dia mencurahkan seluruh waktunya untuk musik. Bahkan dia sampe nelantarin nyokap gue, gue dan adik-adik gue. Belum sempat dia terkenal, dia udah keburu meninggal karena pola hidupnya yang nggak sehat. Begadang tiap malem, nggak makan, yah gitu deh pokoknya.”

“Hmm.. terus hubungannya sama tattoo drum itu apa??” Rei mengerjap-ngerjapkan matanya pertanda tak mengerti.

“Bodoh!! Bokap gue dulu seorang drummer, dan drum ini nih..” kata Shin sambil menunjuk-nunjuk tattoo di dadanya. “peninggalan terakhir dari bokap gue. Gue pengen terus sama-sama bokap karena gue nggak bisa melakukan itu saat ia masih hidup.”

Shin menarik napas panjang, pandangannya menerawang seolah dirinya tengah terseret ke masa lalu. “Pengennya sih  gue nenteng-nenteng drum ini kemana-mana, tapi karena nggak mungkin jadi gue bikin tattoo gambar drumnya aja.” lanjutnya lagi sambil menyunggingkan senyum.

Rei mengangguk-angguk. Diam-diam Rei mengagumi keindahan tattoo milik Shin, juga cara pandang Shin. Walau ia sudah ditelantarkan, ia sama sekali tidak membenci ayahnya. Malah ia ingin meneruskan perjuangan ayahnya, untuk menjadi terkenal.

Rei kemudian teringat kembali pada ibunya. Selama ini, ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Dan mereka jarang menghabiskan waktu bersama-sama. Ibunya terlalu sibuk bekerja. Mendadak di hatinya ada perasaan nyeri.

“Gue tinggal bentar, beliin lo bakso. Abis makan, gue anterin lo pulang ya… Nyokap lo pasti khawatir”

Rei tersenyum lalu mengangguk patuh. Saat Shin pergi, dimainkannya gitar yang selalu menemaninya, lalu ia mulai bernyanyi.
Always
Donna hibi datte
Tanoshimeru hazu dakara

Boogie na yume wo mite
Fukinukeru kaze ni naru ah! ah!
Issho ni konai ka?

Shake my heart yeah!
Shake your heart baby!
Kono mune no takanari wo

Mendadak pandangannya terhenti pada foto Shin yang terletak di sudut rak dekat ruang tamu. Shin kecil yang sedang tersenyum lebar bersama almarhum ayahnya, sambil memegang stik drum. Sama seperti halnya Shin yang ingin terus bersama ayahnya, Rei juga ingin selalu bersama-sama ibunya. Dan juga, bersama cowok kecil dalam pigura ini. Kalau saja itu mungkin.

2 komentar on "Terus Bersama-Sama."

stany cecilia on 14 Februari 2012 20.21 mengatakan...

Kerennnnn....

Bun No Ichi on 15 Februari 2012 11.09 mengatakan...

mantapp....

Posting Komentar

Posting tanpa komentar, bagai ayam KFC nggak pake saos. Yuk ngomentarin posting saya.. :3

Followers

Space For Rent

 

Refresh My Mind Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Buy Unlocked iPhone | Marital Affair | Blogger Templates