Kamis, 23 Februari 2012

(Day 4) Cinta adalah Segalanya.


Sudah tiga hari lamanya, kamu mengurung dirimu sendiri di kamar. Oh, adikku yang malang.. Entah apa yang sudah terjadi hingga membuatmu seperti ini.

“Tokia, makanlah dulu.. Nanti kamu bisa sakit,” panggilku sambil beberapa kali mengetuk pintu kamarmu.

Akhirnya kamu keluar juga. Rambutmu kusut tak terawat. Entah apa saja yang sudah kamu kerjakan selama di dalam.

“Kakak….,” kamu memelukku manja. Walau sudah berusia 14 tahun, namun kamu masih saja senang bermanja-manja padaku.

Aku memakluminya. Karena semenjak kepergian mama bersama pacar barunya, kita sudah tak dapat lagi menerima kasih sayang dari seorang ibu. Dan aku, selaku kakak perempuan tertua secara otomatis mengambil alih peran ibu dalam keluarga ini. Papa kita, sehari-hari hanya bekerja sebagai guru honorer dengan penghasilan tak seberapa.


Mungkin, itulah salah satu alasan mama memutuskan untuk pergi.

Kamu memakan bubur ayam yang kubeli dengan lahap. Sejak kamu mengurung diri, nafsu makanmu pun seperti ikut terkurung. Sejak kamu pulang dengan luka-luka di sekujur tubuhmu, kamu jarang mau memakan makanan yang kusediakan.

Aku lega, kamu telah kembali seperti sedia kala. Sesungguhnya, aku sangat penasaran mengenai apa yang sudah menimpamu. Namun, aku ingin menunggu sampai emosimu reda sepenuhnya. Aku mengerti betul remaja seusiamu , masih sulit mengendalikan emosi.

“Kak Tomoe, mengapa mama pergi meninggalkan kita??! Apa mama tidak sayang pada kita?! Apa cinta mama yang dulu itu palsu?!” kamu akhirnya membuka suara, walaupun perkataanmu itu terasa sangat menusuk bagiku.

Aku bingung, mau menjawab apa.

Kamu lalu bercerita tentang perlakuan teman-temanmu yang selalu menghina mama kita. Yang mengatakan bahwa mama adalah wanita perebut suami orang. Kamu berkelahi karena ingin membela mama. Namun di dalam hati kecilmu, kamu sependapat dengan orang-orang itu.

Aku terenyuh, saat mendengar ceritamu. Aku pun teringat, masa SMA ku yang tidak lebih baik darimu. Banyak celaan dan hinaan yang datang, karena perbuatan mama. Namun, aku memilih untuk tidak memikirkan perkataan orang. Aku memilih untuk meraih prestasi saja, ketimbang meladeni olok-olok orang.

“Aku tidak ingin jatuh cinta, kak.. Aku merasa cinta itu hanya sebuah kebohongan!! Bahkan sahabatku sendiri mengkhianatiku dan mengambil gadis pujaanku. Aku tidak ingin mempercayai siapa pun lagi!!” tangismu kian pecah.

Adikku yang malang, pasti kamu sudah mengalami hari-hari yang berat. Aku memelukmu dan membiarkan kamu menangis di bahuku. Dengan hati-hati kubelai rambutmu.

“Tokia.. kamu tidak perlu repot-repot menilai orang lain apakah dia baik atau buruk. Itu adalah hal yang sulit. Lebih baik, cintai dirimu. Jadi kamu mampu bertahan dalam hidup yang sesulit apapun..” ujarku lembut.

Kamu mengusap air matamu, dari pancaran matamu dapat kulihat bahwa kamu bersusah payah untuk tetap tegar. Aku jadi teringat perkataan papa pada suatu malam. Tepatnya, malam ketika mama pergi dari rumah ini.

“Tomoe, cintailah hidup dan hiduplah dengan cinta maka kamu akan bisa menghadapi apapun..” ujar papa yang terlihat begitu bersahaja, meski ia baru saja dikhianati.

Papa sama sekali tidak merasa dendam atau apapun. Ia juga mengajarkan pada anaknya untuk tidak membenci mama. Itulah cara papa, untuk tetap merasa bahagia.

“Aku cinta kakak dan papa..” katamu akhirnya.

Aku memelukmu lagi. Kurasa papa benar, cinta adalah segalanya.

1 komentar on "(Day 4) Cinta adalah Segalanya."

putzmoomoo on 23 Februari 2012 15.57 mengatakan...

siskaaaaa..... #GaBisaKomentarApa-apa ;)
keren bu, ngena gitu ceritanya.

Posting Komentar

Posting tanpa komentar, bagai ayam KFC nggak pake saos. Yuk ngomentarin posting saya.. :3

Followers

Space For Rent

 

Refresh My Mind Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Buy Unlocked iPhone | Marital Affair | Blogger Templates