Jumat, 10 Februari 2012

Sinclair



Namaku, Sinclair. Dan aku sedang dikejar-kejar.

Nafasku tersengal-sengal, peluhku bercucuran, dan kakiku terasa sangat sakit. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berlari. Yang jelas, aku sudah sangat kelelahan sekarang.
Beberapa pria berbadan besar mendadak muncul , menghadangku dengan sebuah balok panjang. Beberapa lagi muncul dari arah kanan, membawa senapan sambil menembak-nembakannya beberapa kali ke udara untuk menggertakku.

Aku mengerahkan sisa-sisa tenagaku untuk berlari tapi mereka mengepung dari semua arah. Sial!! Aku terdesak!!

“Hei, bocah kurang ajar!! Larimu cepat juga,” kata salah satu dari mereka yang membawa balok. Kurasa ia lah pemimpinnya. Dan ia sama terengah-engahnya denganku.

“Jangan banyak bicara kau!! Bocah ini milik kami!!” sergah rombongan pria lainnya.

“Hei, bocah!! Berapa umurmu, HAH??!! 10 tahun?! 12 tahun ?!! Kuhargai nyalimu, namun sayang kamu harus mati kalau tidak segera menyerahkan benda itu..”  salah satu pria dengan bekas luka menyilang tepat di samping mata kanannya.

“Benda itu tidak ada padaku!!!” kataku geram. Aku benci harus mengalami hal ini ratusan kali. Bukan, mungkin sudah ribuan kali.

“Jangan bohong!!!!” bentaknya lagi. Pria dengan bekas luka itu kini sudah menempelkan pistolnya di kepalaku.

Aku menelan ludah. Kutatap tajam pria-pria dengan balok yang bergeming menyaksikanku ditodong pistol. Mereka kalah senjata. Tentu saja. Kurasa karena itulah mereka memilih untuk ‘gencatan senjata’ terlebih dulu.

“Apa kalian begitu ingin hidup abadi??” tanyaku akhirnya. Mataku setengah berair.

Mendadak aku teringat orang tuaku. Ibuku meninggal karena mencoba melindungiku dari tembakan pasukan perang. Sementara ayahku tewas disiksa saat menjadi tawanan mereka. Dan itu semua terjadi karena benda keparat yang mereka incar, Amerta.

Orang tuaku adalah arkeolog dan mereka tidak sengaja menemukan sebuah botol berisi ramuan yang dipercaya orang-orang sebagai Amerta. Itu adalah ramuan sisa peninggalan para dewa yang tidak ikut terbawa ke Surga. Dan ramuan itu dapat membuat siapapun yang meminumnya, hidup dalam keabadian.

Semenjak berita mengenai Amerta itu tersiar, entah sudah berapa banyak orang yang mendatangi kami untuk mendapatkan ramuan itu. Para ilmuwan ingin mengembangkan ramuan itu dan membuat formula yang mirip agar manusia dapat hidup abadi. Tentu saja orang tuaku tidak ingin hal itu terjadi.  Bagaimana jika ramuan itu jatuh ke tangan yang salah?! Karena itulah mereka bahkan bersedia mengorbankan nyawanya, untuk mencegah hal buruk itu terjadi.

Pria dengan bekas luka itu mulai tidak sabar. Ia terlihat geram dan marah.

“Cepat serahkan atau kau mati sekarang!!!” ia mulai mengambil ancang-ancang untuk menarik pelatuk pistolnya.

“Percayalah, kalian tak akan mau hidup abadi..” ujarku lagi. Suaraku sangat lemah, karena kelelahan.

DAAAAAARRRRRR..  suara pistol itu akhirnya meletus. Aku yakin peluru itu telah menembus kepalaku saat ini.

Mereka semua tampak ketakutan saat melihat mataku masih terbuka. Aku bahkan mengulum senyumku dan menatap pria yang baru saja menembakku.

“Apa-apaan dia!!! Di..dia bbu..bukaan manusia!!!!” pria-pria itu lari tunggang langgang, menabrak satu sama lain karena takut.

Pria dengan bekas luka itu masih bergeming . Pandangannya kosong.

“Bagaimana bisa..?” suaranya parau, dan terdengar nyaris hilang.

Aku mengulurkan jari ke lubang di kepalaku, mencoba untuk mengeluarkan peluru di dalamnya.

“Aaaaaaaw..” aku meringis kesakitan, lalu tersenyum simpul.

“Bagaimana bisa?? Aku telah meminum Amerta itu.. sesaat setelah orang-orang datang dan membunuh ibuku. Aku tidak tahu apapun saat melakukannya, aku kehausan karena terus berlari menghindari kejaran orang-orang. Lalu kuminum ramuan yang dikalungkan ibu padaku. Semenjak itu, aku tidak bertambah tua ataupun mati karena luka apapun. Luka itu akan sembuh dengan sendirinya” kataku lagi sambil mengelap sisa-sisa darah dari lukaku yang kini telah mengering.

Namaku, Sinclair. Dan aku tidak ingat usiaku. Karena aku, abadi.


**Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

5 komentar on "Sinclair"

stany cecilia on 10 Februari 2012 15.57 mengatakan...

Sinclair?
Jangan2 anaknya BCL. XD
Kereeennnn!!! Menegangkan!!!! *.*
Udah dishare?

Btw, cizu..
Kok ga bisa komen dari hp ya? --a

myalizarin on 10 Februari 2012 16.07 mengatakan...

Bagus! :D

Tapi itu masih kecil ya pas abadinya? Coba udah gede dan ganteng *eh XD

tochiru on 10 Februari 2012 18.08 mengatakan...

Sinclair? Musuhnya Rave dong XD

Cizu Chan on 11 Februari 2012 07.12 mengatakan...

@Stany : NGAKAK, baru ngeh namanya mirip Ashraf Sinclair. XD
Hmm, ngga tau juga deh. Mgkn karena gue pake tampilan full window buat komen. Hehehe

@Tammy : Iya, Tam sengaja dibikin abadinya pas masih kecil. Kan masih polos-polos gimana gitu. LOL. Kalo udah gede kasian, ntar jatuh cinta terus ditinggal mati pacarnya terus. Wkwkwk

@tochiru : Tadinya gue mau pake nama2 yg ada di Fairy Tail malah.. Hahahaha

Akira Tsubasa on 14 Februari 2012 17.57 mengatakan...

Keren kak!
Tapi, cuma segitu doang? Pdhl seru!

Posting Komentar

Posting tanpa komentar, bagai ayam KFC nggak pake saos. Yuk ngomentarin posting saya.. :3

Followers

Space For Rent

 

Refresh My Mind Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Buy Unlocked iPhone | Marital Affair | Blogger Templates