Selasa, 15 Mei 2012

Tak Semudah Membalikan Telapak Tangan


Setelah mengalami sendiri, gue baru mengerti bahwa dunia kepenulisan itu nggak bisa dianggap enteng atau gampang layaknya membalikan telapak tangan. 


Pertama, bikin tulisannya aja udah susah. Kita dituntut untuk se-kreatif mungkin menciptakan sebuah cerita yang unik, agar bisa dibedakan dari penulis-penulis newbie lain yang semakin banyak bermunculan. Singkatnya, kita harus punya ciri khas supaya gampang diinget orang. Cara termudah untuk punya ciri khas adalah bikin nama yang unik tapi gampang diinget dan disebutkan kembali. 


Naskah kita pun haruslah dikerjakan se-profesional mungkin. Paling nggak, layoutnya yang bener. Kalo paragraf ya dibikin menjorok ke dalam, terus dialognya jangan lupa dikasih tanda kutip. Huruf kapital pun harus pada tempatnya. Ini hukumnya wajib. Buku adalah brand dari diri kita. Jangan males ngedit dan revisi. Kalo buku kita jelek, yang kena imbasnya ya kita juga. Intinya, jangan sampe ada pembaca yang kapok beli buku kita.



Selesai ngerjain naskah, kita masih harus cari cara buat menerbitkannya. Yang paling gampang pake jasa self publishing. Tapi kesulitan dari menerbitkan buku secara indie justru baru dimulai ketika bukunya udah terbit. Man~ jualin buku itu susahnya minta ampun. Kalo dianalogikan, kurang lebih susahnya itu kayak sales door-to-door yang nawarin panci ke ibu-ibu. Semua ibu-ibu butuh panci, tapi belum tentu mereka akan membeli panci tersebut. Sama kayak jualin buku. Pembaca butuh buku bacaan, tapi belum tentu mereka mau bersedia beli buku kita. Apa lagi kalo nama kita asing di telinga mereka.


Tapi tenang. Kalo nanti jualan gue laku, gue bakal bagi-bagi tips ngejualin buku indie. XD


Mengirim naskah ke penerbit juga nggak bisa dibilang gampang. Walaupun mungkin ada dari kita yang suka mencibir buku-buku di mall, entah karena ceritanya yang pasaran atau udah ketebak jalan ceritanya, tapi buku-buku itu setidaknya udah berhasil menembus hati para editor (eaa). Dan editor-editor ini bukan orang-orang yang pilih naskah pake cap cip cup atau pake ilmu terawang menembus sukmo, melainkan orang yang udah berpengalaman selama bertahun-tahun di bidangnya. Mereka profesional dan jelas lebih ahli dari kita.


Gue belom pernah mengajukan secara resmi ke penerbit mayor, tapi gue bisa kasih info dikit berdasarkan hasil pengamatan gue. Pertama, rata-rata penerbit mayor itu nggak menerima kumcer. Alasannya, karena peminatnya sedikit. Lain halnya, kalo kita udah ngetop kayak Dee Lestari. Kalau pun mereka mau menerbitkan, maka naskah itu haruslah benar-benar menjual. Kedua, hati-hati dalam memilih penerbit. Jangan sampe ketipeng, karena katanya banyak penerbit-penerbit abal-abal yang memanfaatkan keluguan penulis-penulis newbie.


Nah, walaupun susah dan penuh rintangan tapi ini harus dilalui kalo kita emang bener-bener pengen jadi penulis sukses. ^^ Yang penting semangat dan tetep enjoy menjalani prosesnya. Ada baiknya kita menekuni bidang ini, karena kita memang benar-benar menyukainya bukan karena sekadar ikut-ikutan aja.

Ganbarimashoo!! (*^^*)

0 komentar on "Tak Semudah Membalikan Telapak Tangan"

Posting Komentar

Posting tanpa komentar, bagai ayam KFC nggak pake saos. Yuk ngomentarin posting saya.. :3

Followers

Space For Rent

 

Refresh My Mind Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Buy Unlocked iPhone | Marital Affair | Blogger Templates