Kamis, 25 Oktober 2012

Dunia Punya Banyak Cinta


Laki-laki itu tergolek lemah tak berdaya di atas bale papan beralas tikar. Agus namanya. Rambutnya berantakan, sebelah kaki dan tangannya terkulai lemas, sementara sebelahnya lagi menegang kaku. Badannya hampir tak terbungkus apa pun selain selembar selimut tipis. Aku menatap nanar sinar matanya yang semakin meredup seiring dengan berjalannya waktu.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Juga hari kedelapan puluh dua pasca ia terkena serangan stroke keduanya. Sekarang, tidak ada banyak hal yang dilakukannya selain berbaring. Semua aktivitas sehari-harinya seperti makan, mandi, dan buang air memerlukan bantuan orang lain.

Terkadang ia menangis, terkadang ia tertawa. Lalu ia bisa menggeram tiba-tiba. Sungguh memilukan melihatnya dalam kondisi seperti itu. Deraian air mataku pun perlahan jatuh karena sudah tak terbendung lagi.

Padahal  dulunya, laki-laki itu adalah orang yang hampir tak pernah kulihat menangis. Ia lebih memilih untuk marah ketimbang bersedih. Meratapi hidupnya yang miskin dengan caci maki. Atau menyombongkan hartanya yang tidak seberapa dengan pujian-pujian terhadap diri sendiri. Memang, pamanku bukanlah orang yang baik. Tapi dia juga tidak sepenuhnya jahat. Terkadang, ia masih suka membantu keluargaku baik dalam bentuk jasa ataupun uang.

        Walaupun hubungan keluargaku dengan paman tidak terlalu harmonis, tapi kami juga tidak bermusuhan. Dan tetap saja, ada perasaan sedih saat melihatnya dalam keadaan tidak berdaya seperti ini. Seburuk apa pun perbuatannya di masa lalu, semua telah kami lupakan. Kami juga telah bertekad untuk membantu pengobatan paman semampu kami.


Setengah tahun yang lalu..
               
Paman Agus mengalami gejala stroke ringan sekitar akhir tahun lalu. Awalnya, ia sering lupa dengan hal-hal sepele seperti tanggal dan hari. Dalam sehari, ia bisa bertanya “ini hari apa?” sampai beberapa kali. Tapi kami belum menyadari bahwa ini adalah salah satu dari gejala stroke. Hingga suatu hari, paman mendadak tidak bisa berjalan ketika hendak menyebrang jalan. Ia juga lupa dengan alamat rumahnya sendiri.

        Keadaannya semakin memburuk karena tangan kirinya menjadi kaku dan tidak bisa digerakan. Tak hanya itu, terkadang ia juga terlihat seperti orang linglung. Berbulan-bulan dalam keadaan seperti ini, membuatnya stress dan frustasi. Setiap hari ia terus saja mengeluh tentang kondisinya. Ia tidak mampu lagi mencari uang untuk makan. Sehingga, banyak uang pelanggan dari bisnis reparasi sofa miliknya terpakai untuk biaya berobat dan hidup sehari-hari.

        Pamanku tinggal dengan nenek dan keluarga pamanku yang lainnya, Paman Johan. Paman Johan ketika itu baru saja keluar dari  pekerjaannya yang lama, karena merasa tidak cocok dengan perangai bosnya. Dan ia belum juga mendapat pekerjaan pengganti. Jadi, sebagian biaya hidup nenek dan paman ditanggung oleh keluargaku.

Tiga bulan yang lalu..

        Setelah beberapa waktu berlalu, kami mendapat kabar gembira. Paman sudah baikan setelah mendapat terapi listrik, meminum obat, dan mengkonsumsi daun ubi. Perlahan-lahan tangannya bisa digerakan kembali.

Lalu ia pun bermaksud untuk kembali menjalankan bisnis reparasi sofanya, dan mencari orderan baru. Namun karena kondisinya tidak pulih sepenuhnya, maka hasil pekerjaannya pun tidak sempurna. Ia kembali mengalami frustasi, bahkan jauh lebih parah dari sebelumnya. Ia mulai sering berkata ingin bunuh diri, karena tidak ingin hidup sebagai orang cacat yang tidak mampu bekerja.

Padahal kami sering menasehatinya, bahwa penderita stroke tidak boleh mengalami stress. Ia harus bisa bersikap lebih rileks. Lalu berserah pada Yang Maha Kuasa. Memang, beberapa saran kami sempat dijalankannya. Ia yang hampir seumur hidupnya tidak pernah ke tempat ibadah, kini mulai rutin ke gereja. Namun, satu kebiasaan buruk yang sangat sulit dihilangkannya adalah merokok. Bahkan ia masih menghisap banyak rokok saat ia masih mengidap stroke ringan.

Mungkin karena hal itulah, keadaannya kembali memburuk. Kemampuan melihatnya semakin merosot. Ia bahkan butuh waktu yang sangat lama untuk memasukan benang ke lubang jarum. Seperti yang dialaminya hari itu. Ia sedang menjahit bahan pembungkus sofa. Namun karena kemampuannya menurun jauh, ia tidak mampu menyelesaikannya hingga larut malam tiba.

Lelah bercampur depresi membuat emosinya meledak malam itu. Ia terus saja meracau.

Nenek hanya terdiam ketika paman meracau. Ia tahu, betapa dirinya terus disalahkan oleh paman karena tidak mampu menyekolahkan anaknya. Betapa dirinyalah yang dianggap paman paling bertanggung jawab atas kemiskinan yang ia alami. Tak seucap kata pun keluar dari mulutnya. Namun linangan air matanya, sudah cukup untuk menjelaskan semua.

Tak lama setelah emosinya meledak, mendadak paman merasa sangat lemas. Seolah seluruh energi yang dimilikinya telah terhisap habis. Saat itu, ia baru saja selesai mandi dan bermaksud untuk tidur. Akhirnya, paman Johan membantunya berpakaian dan memapahnya menuju bale.

Tengah malam, saat semua orang terlelap, tiba-tiba paman terjatuh dari bale. Dan ia tidak dapat bangun lagi setelahnya. Selama tiga hari, paman mengalami koma. Matanya tak dapat dibuka, dan tubuhnya menolak makanan atau minuman yang masuk. Juga tidak buang air kecil ataupun besar.

Meskipun kemudian ia akhirnya sadar, namun daya pikir dan ingatannya mengalami kemerosotan parah. Ia juga kehilangan kemampuan berbicara. Kini ia hanya mampu mengandalkan bantuan orang lain untuk menjalani kesehariannya.

***

Keadaan itu terus berlanjut hingga kini. Paman Johan tidak dapat mencari kerja karena sibuk membantu nenek mengurus Paman Agus. Nenekku sudah terlalu tua untuk melakukannya seorang diri. Sehari-hari, mereka hanya makan seadanya. Jauh dari kata empat sehat lima sempurna. Hal ini membuatku sedih, terutama karena Paman Johan memiliki anak yang masih kecil. Anak seusianya butuh asupan gizi yang cukup untuk bertumbuh-kembang.

Bisa dibilang, keluarga mamaku menjadi satu-satu tempat nenek untuk mengadu. Sayang, karena keuangan keluarga kami pun masih tergolong pas-pasan, jadi kami hanya membantu nenek semampu kami. Apa yang bisa kami berikan, akan kami berikan. Entah itu beras, mie instan, atau sekedar telur dan minyak goreng. Meskipun jumlahnya tidak banyak. Meski kami juga harus berhutang pada warung sembako langganan mamaku.

Beruntung, masih banyak tetangga yang datang membantu. Bahkan beberapa orang yang tak kami kenal pun datang untuk memberi nenek uang atau beras. Dengan uluran tangan dari orang-orang  dan sedikit bantuan dari kami itulah, keluarga nenek mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Satu hal yang kemudian kusadari adalah ternyata dunia tidaklah sekejam yang kubayangkan. Dunia ini masih punya banyak cinta. Masih terdapat orang-orang berhati mulia yang bersedia membantu orang yang sedang kesulitan. Meskipun orang itu tak dikenalnya. Meskipun orang itu tak pernah ditemui sebelumnya. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya pada mereka.

Ah, namun rasanya tak pantas jika kami terus menerus mengandalkan bantuan dari orang. Kami juga harus berupaya untuk menghidupi diri kami sendiri. Tapi bagaimana?

Selagi melihat nenekku memandikan paman, aku pun kian tenggelam dalam lamunanku. Apa yang bisa kulakukan untuk membiayai keluarga nenek? Penghasilan yang kudapat dari bekerja belum cukup untuk menutupi semua pengeluaran. Lalu aku pun teringat pada kisah seorang anak yang menjual limun untuk menggalang dana operasi ayahnya.

Mungkin aku bisa mencontoh anak itu. Tentu saja, bukan limun yang kujual. Tapi tulisan. Hasil karyaku yang masih jauh dari kata sempurna. Aku tidak tahu nanti hasilnya akan seperti apa, yang pasti aku memiliki keyakinan yang kuat. Bahwa dunia ini masih punya banyak cinta dan orang-orang yang berhati mulia.
***

0 komentar on "Dunia Punya Banyak Cinta"

Posting Komentar

Posting tanpa komentar, bagai ayam KFC nggak pake saos. Yuk ngomentarin posting saya.. :3

Followers

Space For Rent

 

Refresh My Mind Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Buy Unlocked iPhone | Marital Affair | Blogger Templates