Selasa, 30 Oktober 2012

Mimpi Qira


“Gue bermimpi buruk lagi,” Qira berbisik pada teman sebangkunya, Gea di sela-sela pelajaran Anatomi. Sesekali Qira melirik ke arah gurunya, Bu Anne yang sedang serius menerangkan di depan kelas.

“Mimpi dikejar-kejar pembunuh lagi?!” sahut Gea, yang langsung disambut dehaman Ibu Anne. Seketika keduanya menunduk, menghentikan aktivitas perbincangannya sementara.

Begitu bell tanda pelajaran selesai berbunyi, keduanya lantas duduk berhadap-hadapan. Siap untuk melanjutkan pembicaraan yang tertunda.

“Gimana mimpinya?” tanya Gea antusias. Tiba-tiba Ronald menghampiri mereka dan kembali memotong pembicaraan. “Hey, kalian udah tahu belum?!”

Keduanya serempak memandang teman mereka yang baru saja datang tersebut. “Tahu apa?!” tanya mereka.

“Salah satu kelas XII IPA1 ada yang hilang,” jawab Ron tenang. “Yessie, pemegang nilai tertinggi ujian sekolah dua tahun berturut-turut.”

Qira menelan ludah. “Serius lu?! Soalnya mimpi gue yang tadi malem, ada dianya juga.”


Kini, gantian Ron dan Gea yang menatap Qira. Raut wajah keduanya menegang. Sudah tiga kali, mimpi Qira berhubungan dengan kejadian di dunia nyata. Mimpi pertama Qira dimulai tiga bulan yang lalu. Saat itu ia memimpikan salah satu gurunya, Ibu Yuni meninggal dalam keadaan tergantung di bawah pohon beringin di belakang halaman sekolah. Sebuah tangga tergeletak tak jauh darinya. Keesokan harinya, jenazah ibu Yuni ditemukan di dalam rumahnya dengan kondisi yang persis seperti dalam mimpi Qira

Mimpi berikutnya, terjadi dua bulan yang lalu. Dalam mimpi Qira, Pak Pras tewas tertimbun tanah hidup-hidup. Dan terdapat sekop yang menancap kuat di atas timbunan itu. Hari berikutnya—berdasarkan petunjuk Qira—jenazah Pak Pras yang sebelumnya dilaporkan hilang, bisa ditemukan.

Ini sudah cukup untuk membuat mereka yakin, bahwa Qira memang diberikan semacam pertanda untuk kejadian-kejadian di masa depan. Satu persamaan dari mimpi-mimpi tersebut, Qira datang selalu di saat si pembunuh selesai mengeksekusi korbannya. Lalu si pembunuh yang hanya berwujud bayangan putih itu akan mengejarnya, hingga Qira terbangun. Berikutnya, Qira menemukan dirinya sudah banjir keringat seolah-olah ia baru saja lari marathon puluhan kilometer.

Kini, giliran Yessie.

“Jadi, gue mimpi si Yessie terbunuh dengan kondisi tubuh yang tidak utuh lagi alias udah terpotong-potong. Dan mayatnya ditaroh di dalem freezer penyimpanan daging yang ada di kantin,” Qira berkata dengan terbata-bata. Di ujung pelupuk matanya mengalir butiran air bening. “Asli, sadis banget. Gue harus bisa menemukan siapa pelakunya.”

Untuk beberapa saat, ketiganya terdiam. Sama-sama merasakan duka yang tengah menimpa Sekolah mereka ini. Entah apa yang sudah terjadi, tapi seseorang harus segera menghentikan semuanya. Sebelum korban kembali berjatuhan.

“Terus rencana lu apa?!” tanya Ron, sambil mengelus bulu kuduknya yang berdiri karena membayangkan salah satu temannya telah terpotong-potong.

Malam ini, gue akan ke sekolah. Gue akan mencari sekecil apapun jejak yang ditinggalkan si pelaku di sekolah ini,” jawab gadis yang belum genap berusia 17 tahun itu dengan mantap.

Gea menatap sahabatnya ragu. “Terus, kalo pembunuhnya muncul elu bakal gimana?! Kalo elu yang terbunuh, gimana?! Kita serahin aja semuanya sama polisi.”

Qira menggenggam tangan Gea erat. “Tapi gue udah nggak tahan. Gue nggak tahan harus melihat korban berjatuhan tanpa bisa berbuat apa-apa. Gue tahu hal itu bakal terjadi, tapi gue nggak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya!!” tangis Qira mulai pecah.

Gea memeluk Qira, dan berusaha menenangkan gadis itu. “Yaudah, nanti gue sama Ron nemenin elu ke sekolah. Seenggaknya, kalo pembunuhnya emang bener-bener muncul kita bisa hadapin bertiga.”

Ron mengangguk-angguk. Mereka bertiga telah menguatkan tekad. Si pelaku harus dihentikan malam ini juga.

*** 

Berbekalkan senter dan cahaya dari bulan purnama, ketiganya memasuki halaman sekolah dengan hati-hati. Tanah yang baru saja tersiram hujan membuat jalan mereka tertatih-tatih karena licin. Dinginnya angin malam, membuat suasana di sekolah malam ini semakin mencekam.

Qira memang belum bermimpi lagi, tapi ia yakin bisa menemukan pelakunya melalui petunjuk-petunjuk yang akan mereka cari malam ini.

Ketika Qira hendak menuju pohon beringin tempat ditemukannya jenazah Ibu Yuni, mendadak Qira menyadari kedua temannya tidak lagi menyertainya.

“Ron!!! Gea!!!!” Qira meneriaki nama teman-temannya ke segala penjuru sekolah. Ia berjalan pelan, lalu berlari kecil. Kemudian berjalan lagi. Hingga tak terasa, sudah seisi sekolah ia putari. Namun ia tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan temannya.

“Ron! Gea!” Qira mulai putus asa mencari teman-temannya. Bulu kuduk Qira tiba-tiba berdiri. Ia merasa sesuatu tengah mengawasinya. Langsung saja, sekuat tenaga ia berlari kencang menuju gudang perkakas.

Qira mengambil apa saja yang bisa digunakan untuk melindungi diri. Ada gunting kebun, ada arit, dan beberapa benda lainnya. Qira memilih benda kedua untuk mempersenjatai dirinya. Saat Qira hendak meninggalkan gudang perkakas, tau-tau saja di belakangnya sudah muncul sosok bayangan putih mengerikan. Bayangan itu mencoba menangkap tubuh Qira.

Karena panik dan tidak tau harus berbuat apa lagi, Qira mengacung-acungkan arit itu ke tubuh bayangan itu. Bukannya menjauh, bayangan itu justru semakin mendekat. Akhirnya Qira menghajar bayangan itu membabi-buta dengan aritnya. Beberapa kali Qira menikam, menusuk, bahkan menebas bayangan putih itu. Belum selesai dengan satu bayangan, ternyata Qira harus kedatangan bayangan putih lainnya. Tanpa menunggu lama-lama lagi, langsung saja Qira menyerang bayangan putih itu hingga tak bersisa. Muncratan darah membanjiri tubuh Qira dan seisi gudang tersebut.

Qira yakin, dengan ini berakhirlah sudah segala mimpi-mimpi buruknya. Juga tak akan ada lagi korban yang berjatuhan. Baru saja, Qira hendak bernapas lega tubuhnya mendadak menegang kaku. Ia merasa seperti terkena déjà vu. Bukan baru kali ini saja, ia menghabisi bayangan putih itu. Ia pernah mencekik dan menggantung tubuh bayangan putih itu, pernah menguburnya hidup-hidup, bahkan meracuni sebelum memutilasinya juga. Tapi bayangan putih itu selalu saja kembali menghantui hidupnya, tak peduli apa pun yang ia lakukan.

Qira menatap dua jenazah bayangan putih yang telah bersimbah darah di lantai. Matanya membelalak saat menyadari bahwa kedua bayangan putih tersebut adalah Gea dan Ron. Dan jantungnya serasa mencelos saat menatap sosok bayangan putih yang terpantul di cermin. Qira pun berlari ke lantai tertinggi gedung sekolah dan melompat dari sana.



Kata Kunci : Pohon beringin, tangga, sekop, putih, bulu kuduk, jejak, malam, senter, purnama, & darah
Setting : Sekolah
Ditulis untuk #FFHalloween @YUI17Melodies

0 komentar on "Mimpi Qira"

Posting Komentar

Posting tanpa komentar, bagai ayam KFC nggak pake saos. Yuk ngomentarin posting saya.. :3

Followers

Space For Rent

 

Refresh My Mind Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Buy Unlocked iPhone | Marital Affair | Blogger Templates