Sabtu, 19 Januari 2013

#1 REBORN


Pernahkah kau menjalani kehidupan dalam dua dunia yang berbeda layaknya siang dan malam?
             
Eliyah Way. Mungkin kau pernah mendengar nama tersebut sebagai mahasiswa pandai berbakat dengan segudang prestasi. Atau mungkin juga kau pernah mendengarnya dalam Daftar Pencarian Orang karena terlibat sejumlah kasus kriminal.

Seharusnya hidupku tak pernah serumit ini, jika saja aku berjalan sesuai alur dan tidak mencoba melawan arah. Bagaimana semua ini berawal, sudah tidak penting lagi. Karena yang terpenting saat ini adalah bagaimana aku harus mengakhiri semuanya.

Desember, 2008

“Maaf, nak. Kami tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk berkuliah di bidang kedokteran. Meskipun kau mendapat beasiswa dari universitas, namun kami tetap tidak bisa membiayai keperluan kuliahmu nanti,” Ibu berkata datar dengan pandangan lurus ke depan. Seolah enggan menatap balik mataku, yang sedang memandanginya tajam.

“Tapi, Bu.. Ini adalah mimpiku dari kecil!! Dan sekarang semuanya terasa begitu dekat… begitu nyata… kenapa Ibu tidak mendukung sedikit saja?! Aku tidak minta banyak bu, hanya beberapa juta rupiah saja. Setelahnya, aku akan mencari uang sendiri. Kumohon bu…,” aku hampir putus asa dan mulai terdengar merengek seperti anak kecil. Aku sudah tidak peduli lagi. Kalau perlu aku akan berlutut memeluk kaki Ibuku, asal keinginanku itu terpenuhi.

“Maaf.. tidak bisa… Ayahmu sedang sakit-sakitan dan kita hanya mengandalkan dana pensiunannya untuk bertahan hidup. Sudahlah, kau menyerah saja..” ujar Ibu lagi, sambil berlalu dari hadapanku.

Aku terhenyak. Tidak bisa menerima kata-kata Ibuku barusan. Bagaimana mungkin ada orang tua yang tidak mendukung impian anaknya?! Bagaimana mungkin ada orang tua yang tidak senang dan bangga mendengar anaknya diterima kuliah kedokteran bahkan mendapat beasiswa?!

Tangis, amarah, kecewa dan sakit hati bercampur menjadi satu.

Perlahan, kuseka air mataku. Kukepalkan tanganku erat-erat.

Tak ada yang bisa menghalangiku!! Aku akan menjadi dokter apa pun resiko yang harus kutanggung. Pasti!!

Maret, 2009
               
“Hey, kau!!”

Aku menoleh ke sekeliling sambil memicingkan mata. Hampir jam 3 pagi saat ini. Aku baru saja pulang dari mini market 24 jam, tempatku bekerja. Urat syarafku seketika menegang, karena merasa ada ancaman yang akan datang.

Dari balik gang yang gelap, muncul sesosok pemuda bertubuh tinggi dengan bekas luka di dekat matanya. Samar-samar, aku mulai mengenali sosoknya.

“Hans?!” tanyaku tak yakin.

Pemuda itu tertawa dengan suaranya yang parau. “Emang nggak salah, kalau kau disebut jenius! Kau baru berkenalan denganku sekali dan sekarang kau langsung mengenaliku lagi!! Hebat!!”

“Yaah, tidak banyak pemuda sepertimu…” ujarku.

Hans mengangkat sebelah alisnya.

“…yang memiliki bekas luka di mata dan bersuara parau sepertimu,” sambungku lagi.

Lagi-lagi Hans tertawa. “Kau tau, Shane?! Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu!!” ujarnya menepuk-nepuk punggungku.

Aku tersenyum simpul, “Wow, terima kasih Hans. Aku tersanjung, tapi maaf aku normal,” aku mencoba berkelakar.

Pemuda ini kukenal secara tak sengaja. Menabrakku tak sengaja, menjatuhkan barangnya, menyuruhku menyimpannya, kemudian menghubungiku untuk mengambil barangnya kembali.

Pemuda ini sungguh tidak normal.

Hans berdeham. Ekspresi wajahnya berubah menjadi serius. “Ada yang ingin kusampaikan padamu. Tapi tidak di sini..”

Hans melihat sekeliling, lalu mengajakku beranjak dari situ menuju tempat tinggalnya. Sebuah apartemen yang apak, nyaris tak berpenghuni, gelap, dan sangat suram.

“Ada urusan apa, Hans?! Aku sudah terlambat pulang setengah jam, jadi maaf aku tidak bisa berlama-lama di sini.”

“Hahaha.. Apa kau selalu saja serius seperti ini?!” Hans menyulut puntung rokoknya yang tersisa setengah, yang dipungutnya dari dalam asbak. “Kudengar kau sedang butuh uang. Apa itu benar, Shane?!”

Aku tersentak kaget. Bagaimana bisa ia mengetahui hal tersebut jika aku tidak pernah mengatakan hal ini kepada siapa pun? Aku hanya menatapnya penuh makna, tanpa menjawab sepatah kata pun.

Hans mengembuskan asap rokoknya di depan wajahku hingga aku terbatuk-batuk. “Dengar, aku punya pekerjaan besar untukmu. Uang yang dihasilkan sangat banyak, namun resiko yang harus ditanggung pun setimpal, “ ucapnya setengah berbisik.

“Apa resikonya?!” tanyaku dengan napas tertahan.

“Kematian.”

“Hanya itu?!” aku mulai kehilangan akal sehatku. Bagiku hidup tanpa impian nyaris sama dengan kematian.

Tawa Hans kembali meledak. “Dirimu. Masa lalumu. Kau harus segera melupakannya. Mulai hari ini, kamu bukan lagi Shane Howley.”

Keheningan pun menyeruak di sela-sela ketegangan situasi ini. Aku tahu, sekali aku maju maka tak ada jalan untuk kembali. Tapi kapan lagi ada kesempatan seperti ini. Aku tak peduli lagi.

“Mulai hari ini, kamu adalah Eliyah Way.”

Agustus, 2012

Atas rekomendasi dari Hans, aku diterima bekerja pada sebuah sindikat perdagangan senjata illegal. Di sini, aku bertugas mengamankan data klien termasuk menyelidiki latar belakang dan kehidupannya. Di sini aku baru mengerti bagaimana Hans bisa tahu kesulitanku dulu.

Hans memang tidak berbohong. Penghasilan yang kuterima dari sindikat sangat cukup untuk membiayai kuliahku di universitas kedokteran. Bahkan tanpa beasiswa sekalipun. Ingat, beasiswa yang kuterima dulu adalah milik Shane Howley. Sekarang ia sudah tidak ada lagi. Ah, kenangan itu. Tidak seharusnya aku mengingat-ingat masa lalu, di saat aku sudah bertahun-tahun lamanya menjalankan bisnis illegal ini.

Kuakui, ironis memang. Di siang hari, aku belajar mati-matian untuk menyembuhkan orang. Di malam hari, aku membahayakan nyawa seseorang untuk setiap senjata yang berhasil kujual.

Tapi beginilah hidup. Segalanya tidak selalu indah.

“Bos, ada yang ingin membeli senjata tapi dia masih sangat muda bos. Anak SMA. Apa sebaiknya ditolak saja?!” seseorang berbicara di depan ruangan bos. Hanya pemimpin kelas teri sebenarnya. Tidak ada yang tahu persis bagaimana rupa bos besar alias pendiri sindikat ini.

“Bicara apa kau?! Anak SMA atau bocah SD sekalipun, jika mereka punya uang berikan saja!! Dasar tolol!!” ucap orang itu. Mohon maaf, aku tidak berminat untuk mengetahui namanya. Orang yang sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkannya ini, tidak pantas kukenal. Setidaknya aku belum sebrengsek dirinya yang berniat menjual senjata kepada anak SD.

“Heii, Eliyah!!” orang itu memanggilku sekaligus mengusik keasikanku membaca buku anatomi. Dengan enggan, aku menghampiri orang itu.

“Ada apa?!”

Orang yang sedang dikelilingi beberapa perempuan penghibur itu tampak mabuk. “Kau yang temui calon pembeli itu!! Pastikan kau dapat harga setinggi-tingginya.”

Tanpa banyak bicara, aku segera berjalan menemui orang yang dimaksud. Orang yang mengajaknya ke sini, adalah orang bodoh kedua setelah si pemimpin kelas teri itu.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyaku pada sesosok pemuda yang mengingatkanku pada diriku yang dulu. Tampak pintar, namun sebenernya sangat bodoh karena tidak tahu apa yang sedang kami lakukan dan kami hadapi.

Tubuhnya yang kurus terlihat ringkih. Dan kacamatanya akan membuatnya menjadi sasaran empuk para cecunguk di sekolah. Ia bahkan tidak berani menatap wajahku.

“A-aku ingin m-membeli se-senjata,” ujarnya terbata-bata.

“Ya aku tahu, kau tidak akan ke sini jika ingin membeli susu bayi” sahutku dingin.


“Aku ingin membeli FN 57[1],” ujarnya lagi. Kali ini dengan lebih mantap.

Aku hanya tertawa sinis mendengar ucapannya barusan. “Hey, apa kau tau? Pistol yang baru saja kau sebut itu bukan jenis pistol sembarangan. Harganya pun tak akan terjangkau olehmu.”

Dia mengeraskan kepalan tangannya. “Apa saja, berikan aku pistol apa saja!! Asal aku bisa segera membunuh si brengsek itu!! Aku sudah tidak tahan lagi, kumohon..” mendadak suaranya terdengar sedikit terisak.

Entah apa yang sudah dilaluinya, tapi pastilah sangat berat karna ia sampai berniat untuk membunuh orang. Aku tahu, sebagai penjual kami dilarang untuk ikut campur urusan pribadi pembeli. Tapi aku merasakan dorongan yang sangat kuat untuk menyampaikan ini kepadanya.

“Apa kau yakin dengan keputusanmu? Karena sekali kau melakukan ini, dirimu tak akan pernah sama lagi. Dan tidak ada jalan untuk kembali dan memperbaiki segalanya,” ujarku. Sebuah ucapan yang lebih cocok kudengar daripada kulontarkan.

“Aku tidak peduli lagi. Orang brengsek itu harus mati!! Ia pantas mati!!” kini ia mulai histeris.

Dalam hati, aku mempertanyakan dimana kedua orang tua anak ini. Kenapa mereka membiarkan seorang remaja yang menderita depresi berat berkeliaran sendirian? Tapi sudahlah, itu bukan urusanku. Sama sekali, bukan urusanku.

September 2012

Di salah satu sekolah menengah Amerika, telah terjadi penembakan yang dilakukan oleh salah satu siswa. Diduga siswa tersebut adalah korban bullying di sekolah. Beberapa siswa terluka parah dan diantaranya ada yang tewas karena terkena peluru nyasar. Pelaku langsung bunuh diri di tempat usai menembaki teman-teman sekolahnya. 

Berikut adalah daftar nama-nama korban :

Gary Bills (tewas)

Jason Brown (tewas)

William James (terluka)

Tina Heart (terluka)

Sharon Howley (tewas)

Helena Hopkins (terluka)


Aku tertegun membaca surat kabar pagi ini. Tenggorokanku terasa tercekat dan napasku nyaris berhenti. Bagaimana mungkin?!

Pikiranku langsung melayang ke kejadian sebulan lalu. Mungkin anak itu.

Aku melaju menuju rumah sakit yang disebutkan di surat kabar untuk memastikan bahwa semua mimpi burukku pagi ini tidaklah nyata. Pasti orang lain, tidak mungkin dia yang tewas. Sesampainya di sana, kulihat sekelompok petugas medis sedang membawa pasien sekarat ke ruang UGD.

“Permisi,” aku mencegat salah satu perawat yang lewat. “Sharon Howley, dimana jenazahnya berada?”

Perawat itu menatapku sejenak, seolah berpikir, lalu ia akhirnya ingat pada nama yang kusebut. “Ah, iya!! Korban penembakan di sekolah itu!! Maaf, Anda siapa kalau saya boleh tahu?!”

“Aku kakak korban,” aku menelan ludah. Aku masih belum yakin Sharon Howley yang disebutkan di daftar korban adalah adik manisku yang kutinggalkan tanpa kabar 3 tahun lalu. Tapi aku selalu memantau kesehariannya, dan seingatku saat ini ia bersekolah di sekolah menengah tempat insiden itu terjadi. Aku sangat berharap jika aku salah ingat.

Perawat itu melihat daftar yang berada dalam genggamannya. “Ia berada di ruang jenazah, deretan kiri ranjang nomor 2. Nanti Anda bisa bertanya pada petugas setempat.”

“Baik, terima kasih.”

Di ruang jenazah, suasana penuh duka mulai merebak. Beberapa orang tua korban yang baru tiba tampak histeris melihat anaknya telah terbujur kaku di atas ranjang. Diantara deretan jenazah-jenazah itu, kulihat jenazah anak yang membeli senjata dariku. Lalu, di deretan yang dimaksud oleh perawat tadi kulihat jenazah adik perempuanku sedang ditangisi oleh ibuku.

Sekarang

Aku menggigit bibirku dan menguatkan tekad. Aku akan mengakhiri segalanya di sini. Pukul tiga pagi, persis seperti saat aku memulai segalanya. Hans menatap bengis kepadaku layaknya seorang musuh, saat aku mengutarakan niatku untuk keluar dari sindikat ini.

“Kau ini benar-benar tak tahu diuntung, Shane!!” Hans tampak berang, dan ia melayangkan sebuah tinju di wajahku.

“Aku tidak bisa melanjutkannya lagi!!” sergahku. “Tidak setelah kulihat adik perempuanku tewas tertembak senjata yang kujual sendiri!!” Airmata dan darah mengalir membasahi wajahku.

Apapun yang terjadi, aku harus mengakhirinya sekarang.

“Ck, dengar Shane. Selama ini aku menganggapmu seperti adikku sendiri. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu keluar hidup-hidup dari tempat ini. Maaf..,” dari balik tubuhnya, Hans mengeluarkan pistol yang selama ini selalu menemaninya.

Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Jadi aku hanya bisa terpejam pasrah, ketika Hans menodongkan pistolnya itu di pelipisku. Hans hendak menarik pelatuknya, ketika bunyi sirine datang memenuhi seluruh tempat di markas kami. Hans gelagapan dan berusaha kabur. Beberapa anggota sindikat yang sedang terlelap berlarian keluar. Panik dan kalang kabut.

Pimpinan teri pun tampak terbirit-birit menggenakan sandalnya, namun beberapa petugas langsung menyergapnya. “Bocah brengsek, seharusnya kubiarkan kau mati membusuk dulu!!” makinya padaku.

Setelah terlibat baku tembak dengan beberapa anggota sindikat, polisi inteligen yang kuhubungi beberapa saat lalu, mulai menangkap satu persatu anggota sindikat. Seharusnya, aku juga ikut bergabung bersama mereka di penjara. Namun, polisi ini membutuhkan jasaku untuk menangkap bos besar sindikat ini. Jadi, aku ditetapkan sebagai saksi penting dan mendapat hak perlindungan. Karena keputusanku ini, nyawaku senantiasa akan menjadi incaran sindikat. Ditambah, ilmu kedokteranku mungkin berguna suatu saat nanti untuk mencegah banyaknya korban berjatuhan jika terjadi baku tembak.

Aku menghela napas lega, setelah semua anggota berhasil diringkus polisi. Termasuk Hans. Aku bangkit dari posisiku. Memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya untuk membantu para polisi.

Aku tahu, hidupku tidaklah secerah pelangi. Hidupku sekelam malam. Tapi aku akan mulai lagi dari titik ini. Menorehkan warna yang berbeda pada langkahku kali ini. Perasaanku saat ini mungkin seperti..... orang yang terlahir kembali.

***

Tulisan ini dibuat untuk proyek menulis YUI17Melodies #MelodiHijauOranye, tema again.
Kata Kunci : Tangis, Awal, Mimpi, Kenangan & Musuh

Thanks to : terselubung.blogspot.com




[1] Pistol FN Five-seveN, pistol semi otomatis asal Belgia dengan penggunaan peluru berkaliber 5,7mm. Salah satu pistol terbaik di dunia.



2 komentar on "#1 REBORN"

Siamang on 23 Januari 2013 23.17 mengatakan...

kereeen kak cizu >.<

Cizu Chan on 10 Maret 2013 12.36 mengatakan...

Ihhiiwh, maacih mai xD

Posting Komentar

Posting tanpa komentar, bagai ayam KFC nggak pake saos. Yuk ngomentarin posting saya.. :3

Followers

Space For Rent

 

Refresh My Mind Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Buy Unlocked iPhone | Marital Affair | Blogger Templates