Selasa, 12 Maret 2013

Malam Terakhir


Aku baru patah hati dan baru saja menghabiskan seluruh malamku dalam sebuah diskotik ditemani berbotol-botol minuman keras, sebutir pil ekstasi, dan dua orang pelacur yang sangat menggoda. Pacarku, ehm bukan. Mantan pacarku yang sialan itu memutuskan hubungannya denganku tadi siang. Dia bilang aku emosional dan kasar.

Mungkin dia benar. Hanya dengan memikirkan kata-katanya saja, aku merasa seperti akan meledak. Aku seperti terdorong untuk memukulinya, sampai mati kalau perlu. Gadis itu benar-benar tidak tahu malu dan tidak tahu diri. Beraninya ia berkata seperti itu padaku, setelah hampir separuh dari hartaku berpindah ke tangannya. Dan aku pasti sudah melakukannya, memukulinya, kalau saja pacar barunya tidak mencegahku dengan beberapa pukulan keras.

Rasa sakit itu sudah hilang tentu saja. Aku tidak merasakan apa-apa selain perasaan yang sangat ringan. Perasaan seperti sedang melayang di udara. Walaupun beberapa saat lalu, aku sempat merasa seperti habis ditusuk. Rasa sakit itu sangat terasa dan juga tidak biasa. Seperti orang yang baru dibunuh, tapi belum sampai mati. Hanya dibiarkan sekarat, sampai maut datang dengan sendirinya.

Aku mempercepat laju mobilku. Semakin aku berpikir tentangnya, semakin aku marah. Dan semakin dalam kuinjak gas mobilku. Aku tak sempat lagi memperhatikan kilometer mobilku, tapi kurasa aku sudah hampir mencapai angka 70 sekarang.

Jalanan seharusnya sudah sepi, pada jam-jam larut seperti ini. Tapi entah bagaimana, aku samar-samar melihat ada lampu yang kedap-kedip di depanku. Lampu itu berasal dari sebuah truk besar yang sedang parkir, mungkin karena mogok. Sayangnya, saat aku menyadari hal itu aku sudah berada begitu dekat dengan badan truk dan tidak sempat lagi menghindar.

Mobilku menabrak truk tepat di bagian belakangnya. Anehnya, aku sama sekali tidak kesakitan. Aku sama sekali tidak berdarah-darah atau apapun. Aku keluar dari mobil untuk melihat-lihat. Mobilku rusak parah. Bagian depannya hancur, seperti sebuah kaleng yang baru saja diinjak. Supir dan kenek truk itu kelihatannya selamat karena tidak sedang berada di dalam truk.

Tapi ada satu orang pemuda malang, yang di bagian kepalanya berlumuran dengan darah. Aku tidak tahu dia siapa, mukanya sama sekali tidak kelihatan. Tertutup oleh darahnya sendiri. Mungkin dia adalah pejalan kaki yang kebetulan lewat persis di depan mobilku.

Tunggu, pakaian pria itu mirip dengan pakaian yang sedang kukenakan!!! Bulu kudukku spontan berdiri, aku mulai merasa ngeri. Beberapa saat kemudian, supir menelepon dengan nada suara yang terdengar panik.

“Halo, maaf.. Apakah salah satu anggota keluarga Anda, ada yang bernama Prasetya?! Ia baru saja mengalami kecelakaan di Jalan Kemakmuran 3.” katanya, sambil memegang sebuah kartu identitas dan sebuah handphone yang didapatkannya dari saku celana si pemuda.

Dan dia baru saja menyebutkan namaku.


**sebuah coretan iseng di malam hari, enjoy and hope you like it. :D

3 komentar on "Malam Terakhir"

vortex27 on 12 Maret 2013 08.41 mengatakan...

merinding.. :S
bulu kaki langsung berdiri XD

Cizu Chan on 12 Maret 2013 08.53 mengatakan...

Wooo.. bulu kaki bisa berdiri? bisa kayang juga ga? xD

vortex27 on 12 Maret 2013 08.56 mengatakan...

masalahnya belum pernah ngerasain momen "bulu kuduk berdiri"
jadi bulu kaki aja deh yg berdirinya.. hahaha

Posting Komentar

Posting tanpa komentar, bagai ayam KFC nggak pake saos. Yuk ngomentarin posting saya.. :3

Followers

Space For Rent

 

Refresh My Mind Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Buy Unlocked iPhone | Marital Affair | Blogger Templates