Minggu, 17 Maret 2013

Senyum Si Pencinta Hijau


“Kenapa sih kamu suka banget sama warna hijau?” tanya seorang anak perempuan pada suatu siang, kepada teman laki-lakinya yang sedang menggenakan kaos hijau sambil tidur bermalas-malasan.

“Kenapa yaa?! Mungkin karena hijau selalu mengingatkan aku pada alam. Hehehe,” jawab anak laki-laki itu seadanya, sambil memamerkan deretan giginya.

Dan keduanya pun kembali menikmati teriknya siang di musim panas.

Dua puluh tahun kemudian..
Ai shitemo hikisakareru hodo
Oh your love
Anata no nukumori wo omoidasu[1]

“Re, bagus nggak jaket baruku?!” cowok dengan tinggi menjulang itu tau-tau sudah muncul menghadang jalanku.

Aku hanya menatapnya datar tanpa ekspresi. “Bagus sih…,” jawabku malas.


“Tapi?!” Ryu mulai berputar-putar di hadapanku dan belagak seperti peragawan. Tentu saja dengan versi yang lebih konyol. Mau tidak mau, aku pun tertawa melihat tingkahnya.

“Tapi….tetap saja hijau!!!” sergahku kemudian, sambil berjalan pergi meninggalkannya.

Lalu Ryu menyusul langkahku dan mulai berjalan beriringan di sisiku. “Kenapa sih, sentimen banget sama hijau? Hijau itu kan alami, warna daun dan rumput!”

“Bukan sentimen, tapi kalo tetangga sekaligus teman mainku seorang maniak hijau lama-lama bisa jengah juga tau!!” timpalku.

Tiba-tiba, langkah Ryu terhenti. “Rena,” panggilnya.

Langkahku ikut terhenti. Aku menoleh tanpa menyahut. Kuperhatikan raut wajah Ryu yang mulai terlihat serius. Diam-diam, detak jantungku mulai tidak beraturan. Namun sebisa mungkin, aku berusaha tidak terlihat tegang.

“Aku mau pamitan,” ujarnya lagi. Angin sore pun berhembus perlahan, menerbangkan beberapa daun gugur.

“Eh,kamu mau kemana?!” wajah tanpa ekspresi yang sedari kupertahankan, akhirnya  runtuh juga.

“Aku mau mendaki gunung. Hehehe,” senyuman khasnya muncul. “Gunung Fuji. Sekalian mengunjungi orang tua dan kakekku. Oh iya, adik perempuanku juga!  Aku sudah pernah cerita, kan?!”

Aku menelan ludah. Sebenarnya ini bukan kali pertama Ryu berpamitan padaku untuk mendaki Gunung. Namun entah kenapa kali ini rasanya lain. Rasanya seperti ada puluhan kilo logam yang bercokol di dadaku, ketika aku tahu harus melepaskan Ryu pergi ke daerah asal ayahnya. Apalagi, ia berkata dengan mata berbinar seperti ini.

Mungkin ini karena aku takut Ryu tak akan kembali lagi ke sini, karena kerasan tinggal di Jepang. Tinggal bersama tantenya di sini, tentu tidak sebanding dengan tinggal bersama orang tuanya sendiri. Mungkin aku takut Ryu perlahan akan melupakanku. Mungkin aku takut kehilangan orang yang kusayangi terlalu dini.

“Hey, kok malah bengong?!” Ryu menyadarkanku kembali dari lamunan. Sebisa mungkin aku mencoba bersikap biasa dan tidak menunjukan kesedihanku padanya.

“Memangnya aku harus ngapain? Menangis dan mohon kepadamu untuk tetap di sini? Haha,” candaku, meskipun setengahnya mengandung keseriusan.

“Hahaha,” Ryu terbahak. “Sebenarnya aku memang mengharapkan ada adegan mengharukan dari miss expressionless sepertimu.”

Aku mencibir. “Memangnya kamu akan tinggal berapa lama di sana?”

Tiba-tiba, degupan jantungku dipercepat dua kali lipat.

Ryu mengangkat bahunya sambil kembali tersenyum, “Entahlah, mungkin satu atau dua tahun…..” lalu menghela napas yang panjang dan berat. “…..semoga  saja Ojiichan[2] tidak memintaku untuk tetap tinggal di sana.”

Aku menunduk sambil meremas ujung pakaian Ryu kuat-kuat. “Re, apa kau baik-baik saja?!” dia bertanya padaku, dan dari nada suaranya aku bisa merasakan kecemasannya. Sementara itu, aku hanya mampu mengangguk pelan, tanpa menjawab ataupun mengangkat wajahku. Namun ternyata lelehan airmataku jatuh mengenai sepatu Ryu.

“Re….,” panggilnya lagi, tapi lebih seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Bahuku mulai terguncang-guncang karena tersedu. Aku pasti akan sangat rindu pada sosok yang berada di hadapanku ini. Pada suaranya. Pada senyuman yang selalu dipamerkannya. Pada warna hijau yang selalu disukainya.

Tanpa disangka, Ryu menarik tubuhku dan mendekapnya lembut. Sementara itu aku masih terus terisak, hingga Ryu membelai rambutku dan mengecup dahiku pelan.

“Yuki Onna, jangan sedih lagi ya. Aku pasti kembali ke sini,” Ryu mencubiti pipiku lalu tersenyum lebar.

Inilah kami. Ryu, yang hangat bagai matahari. Selalu cerah dan bersemangat. Lalu aku, Rena sering dijuluki Yuki Onna[3] karena selalu berbicara seperlunya dan jarang tersenyum. Tidak banyak orang yang dekat denganku. Karena itu, aku sangat membutuhkan keberadaan Ryu di sini.

Aku mengusap air mataku, “Janji yaaa!” Dan menarik ujung-ujung bibirku, memaksakan diri untuk tersenyum.

Saat itu, aku berharap dapat melompati waktu hingga satu atau dua tahun ke depan ketika Ryu akhirnya kembali.

Setahun pun berlalu..

Beberapa hari yang lalu, Ryu mengirimi email yang mengabarkan keberangkatannya ke Gunung Fuji. Katanya, Gunung Fuji hanya dibuka untuk umum selama musim panas, yaitu Juli sampai pertengahan September sehingga ia harus menunggu hingga musim semi berakhir.

Sejak keberangkatannya ke Jepang, kami mulai berkomunikasi lewat email atau messenger. Namun karena kesibukan masing-masing, kami lebih sering bertegur sapa di email. Kabar baiknya, Ryu bilang akan segera kembali ke sini seusai perjalanannya dari Gunung Fuji. Tidak lupa, Ryu mengirimi foto terbarunya yang sedang mencoba mantel tebal berwarna—siapapun bisa menebak apa warnanya.

Karena kabar tersebut, aku jadi semakin tidak sabar untuk segera bertemu dengan Ryu. Aku mulai menghitung mundur hari dan selalu membawa iPad-ku kemana-mana. Tujuannya, agar aku segera tahu jika ada kabar terbaru dari Ryu.

Hari demi hari berlalu, namun tidak ada kabar lagi dari Ryu. Bahkan ini sudah lewat dua hari dari jadwal kepulangan Ryu dari Gunung Fuji. Aku mulai merasakan firasat yang tidak enak dan rasa cemas yang tidak biasa. Dan firasat itu menjadi semakin buruk ketika aku menemukan sebuah artikel yang bertajuk “Dua wisatawan asal Indonesia dan Jepang, hilang dalam pendakian Gunung Fuji.”

Setiap tahun, ada ratusan wisatawan yang berkunjung untuk mendaki Gunung Fuji. Dan setiap tahun juga, ada laporan kecelakaan yang terjadi di sana. Dua wisatawan asal Indonesia dan Jepang dilaporkan hilang saat turun dari puncak Gunung Fuji. Saat ini, regu penyelamat sedang mencoba untuk mencari kedua orang tersebut.

Aku sudah tidak bisa menunggu dalam ketidakpastian lagi. Apalagi tante Ryu baru saja mengabariku bahwa wisatawan asal Indonesia yang hilang tersebut memang keponakannya. Jadi aku putuskan untuk cuti dari pekerjaanku dan pergi ke Jepang bersama Tante Ryu.

Narita, hari berikutnya..

Kami berangkat dengan pesawat paling pagi, agar dapat segera sampai di tanah kelahiran Ryu. Perjalanan kami dalam pesawat tadi, hanya diisi oleh kesunyian dan aura kecemasan. Dan selama perjalanan itu, aku kembali terkenang pada hari pertama pertemuanku dengan Ryu.

Saat itu, ada seorang bocah laki-laki bermata sipit yang bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia, berdiri lama di depan rumahku sambil memperhatikan taman mini di halaman rumahku. Ia lalu menyadari keberadaanku yang sedang terpaku menatapnya. Tanpa kuduga sebelumnya, ia menghampiriku yang langsung membuatku mundur beberapa langkah karena terkejut. Sambil menggosok-gosok hidungnya dengan telunjuk, ia kemudian mengucapkan kata yang tidak kumengerti lalu tersenyum lebar. “Suki desu[4]!!” ucapnya kala itu. Ia bahkan menarik pelan tanganku, agar mengikutinya menuju taman mini tersebut. Ia menunjuk taman itu dengan jemarinya yang masih sangat mungil, dan mengucapkan kata asing itu sekali lagi. “Tottemo daisuki desu.[5]

Keesokannya, ia selalu kembali untuk mengagumi taman mini hasil kreasi ibuku. Dan dari ibuku juga aku mengetahui, bahwa bocah itu akan menjadi tetangga baru kami. Ia dititipkan oleh orang tuanya kepada tantenya yang tinggal di sebelah rumah kami. Katanya, orang tuanya baru merintis usaha rumah makan kecil-kecilan dan belum mampu mempekerjakan karyawan. Jadi mereka yang mengurus sendiri semuanya. Kelak ketika Ryu dewasa nanti, ia akan kembali tinggal bersama orang tuanya di Jepang. Namun untuk sebuah alasan, Ryu selalu menolak kembali ke tanah asalnya. Hanya saja, kali ini ia tidak bisa menolak lagi karena kesehatan kakeknya akhir-akhir ini mulai menurun. Dan kakeknya sangat ingin bertemu dengan cucu laki-lakinya.

Aku selalu teringat pada kata-kata Ryu saat mengungkapkan kekagumannya pada alam dan warna hijau.

“Udara yang dihasilkan daun-daun dan pepohonan membuatku merasa benar-benar hidup, tidak hanya sekadar bernapas, tapi juga menikmati napas dan udara yang mengalir langsung ke paru-paru. Saking besarnya pengaruh alam bagiku, bahkan hanya dengan melihat warna hijau saja, aku sudah merasa tenang.”

Aku tertegun dan menelan ludah, saat melihat keluarga besar Ryu menjemput kami dalam suasana muram. Sudah tiga hari berlalu, namun Ryu belum juga ditemukan. Ibu Ryu bahkan terlihat sangat pucat dan matanya sayu disertai lingkaran hitam, pertanda ia tidak cukup tidur.

Sesampainya di kediaman Ryu, aku langsung mengungkapkan niatku untuk ikut mencari Ryu bersama regu penyelamat. Bahkan aku bersedia menjalani tes kesehatan untuk membuktikan kesiapanku mendaki gunung fuji. Tante Ryu, Ira sama sekali tidak menduga niatanku itu. Ia berulang-kali menanyakan keyakinanku, dan berulang-kali juga aku mengangguk pasti. Lebih baik aku bekerja keras dan ikut mencari Ryu, ketimbang terus berada dalam kecemasan dan ketidakpastian. Setelah regu penyelamat menyatakan kesediaanku untuk ikut dalam pencarian korban, aku pun segera membekali diriku dan langsung berangkat menuju lokasi.

Tiga hari kemudian..

Warna putih yang mendominasi hampir seluruh ruangan pada bangunan ini, tentu tidak menyenangkan bagi Ryu. Namun, ia harus bertahan karena bagaimanapun juga kondisinya masih sangat lemah saat ini.

Setelah lima hari bergelut dengan gunung Fuji (dua hari diantaranya aku ikut dalam pencarian), siang hingga menjelang malam, akhirnya kami berhasil menemukan kedua korban. Ryu dan seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun bernama Kento. Meskipun keduanya terpaut usia 9 tahun, namun mereka tampak akrab layaknya sahabat karib yang telah saling lama mengenal. Kemampuan Ryu untuk bertahan di alam bebas menyelamatkan hidup keduanya. Ryu dan Kento tersesat di hutan Aokigahara yang terletak di kaki Fujiyama. Ryu terpisah dari rombongan, saat mencoba menolong Kento yang tergelincir saat menuruni Gunung. Saat ini, keduanya sedang menjalani perawatan di rumah sakit karena lemahnya kondisi tubuh mereka.

Hari ini, dengan perasaan yang lebih ceria dari sebelumnya aku kembali mengunjungi Ryu di rumah sakit. Dengan kotak makan hijau di tangan, titipan tante Ryu, aku melenggang menuju kamar tempat Ryu dirawat. Rasanya seperti mimpi bisa kembali merasakan atmosfer keberadaan Ryu, yang selalu mampu membuatku merasa hangat.

“Eh, Ryu kemana?!” gumamku saat mendapati ranjang yang seharusnya ditiduri oleh Ryu, kosong.

“HOI!!” tiba-tiba sepasang tangan besar mencengkram bahuku. Membuatku terkejut setengah mati dan nyaris berteriak, kalau saja aku tidak cepat-cepat mendekap mulutku erat-erat.

“Ryu!!! Jangan usil, deh..” sergahku seraya memanyunkan bibir, sementara Ryu malah terbahak-bahak menyaksikan wajahku yang pucat pasi.

“Lama banget, sih Re! Aku udah kelaparan setengah mati, tau!!” ujarnya, masih setengah terbahak sambil menjulurkan tangan mengambil kotak makan yang kuletakan di atas meja, dekat ranjang.

“Huh, masih untung dibawain makanan!! Dasar tidak tahu terima kasih!!” cibirku padanya, dengan ekspresi datar.

“Ih, sama sekali tidak berubah!! Masih saja ketus dan tanpa ekspresi. Hahahaha,” Ryu kembali terbahak sambil mencubiti pipiku, sebuah kebiasaan yang juga tidak berubah.

Keheningan tiba-tiba menyeruak diantara kami. Masing-masing dari kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

Hingga Ryu kembali memecahnya dengan sebuah sentuhan lembut di tanganku. “Re, aku punya oleh-oleh untukmu. Rencananya ini akan kuberikan saat aku kembali ke Indonesia nanti. Namun, karena aku belum bisa segera kembali dan kamu sudah berada di sini, jadi akan kuberikan sekarang.”

Lagi-lagi, Ryu berhasil mengacaukan sistem metabolism dalam tubuhku hingga membuat jantungku berdetak tidak karuan.

“Nih, dijaga baik-baik yaa—“ ujar Ryu sambil meletakan sebuah pigura yang masih terbungkus rapi. “susah loh dapetnyaa.”

“Apaan nih?!” tanyaku gugup.

“Lihat aja sendiri,” jawab Ryu seadanya, seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Aku meliriknya sekilas, namun ia malah sengaja membuang pandangannya jauh-jauh.

Dengan hati-hati, aku membuka bungkus pigura itu dan langsung tertegun saat mendapati foto yang berada di baliknya.

Sebuah foto matahari dengan warna oranye terindah yang pernah kulihat seumur hidup. Diambil dari puncak gunung Fuji tepat saat sang mentari baru menampakan wujudnya. Kurasa aku mulai mengerti mengapa Jepang disebut sebagai negeri matahari terbit.

“Ryu..,” ucapku terbata-bata. “Ini sangat indah, terima kasih.” Tanpa sadar, aku meneteskan air mata saat mengukir senyum pada bibirku.

Ryu ikut tersenyum, “Senyumanmu juga sangat indah, terima kasih kembali.”

Kata-katanya, membuat air mataku tidak dapat berhenti mengalir. Namun aku menangis bukan karena sedih, melainkan karena merasa sangat bahagia. Lalu ia mendekapku, persis seperti kejadian waktu itu.

“Aku harap, aku bisa menjadi matahari dengan warna oranye yang selalu kau sukai itu. Agar aku bisa terus menyinari dan membuatmu tersenyum seperti ini.”

Bagi Ryu, aku seperti dedaunan yang anggun dan memberinya ketenangan serta rasa damai. Belakangan ia mengakui kalau ia hanya bercanda saat menyebutku Yuki Onna. Ia hanya senang menggodaku. Sementara itu bagiku, Ryu masih seperti matahari dan akan selalu menjadi matahariku. Jika aku adalah daun, maka semuanya tampak normal jika aku membutuhkan Ryu dan senyumannya yang khas untuk selalu menemaniku.

***

Kata kunci : Hidup, malam, hijau, rindu, jalan.

Dibuat untuk tema : Green a.live, proyek Y17M #MelodiHijauOranye

Persembahan khusus untuk album best YUI Orange Garden Pop dan Green Garden Pop.




[1]Cinta ini telah meluluhkan air mataku, oh cintamu. Aku dapat mengingat dengan baik bagaimana hangatnya dirimu.
[2] Kakek
[3] Gadis Salju
[4] Suka.
[5] Sangat suka.

0 komentar on "Senyum Si Pencinta Hijau"

Posting Komentar

Posting tanpa komentar, bagai ayam KFC nggak pake saos. Yuk ngomentarin posting saya.. :3

Followers

Space For Rent

 

Refresh My Mind Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Buy Unlocked iPhone | Marital Affair | Blogger Templates